Kemudian Ke Sini.

Untuk meyakinkan saya supaya konsisten ngeblog, saya mencoba berpikir positif: blog akan kembali berjaya.

Harapan itu tidak berlebihan. Mungkin ada saatnya orang-orang akan jenuh dengan medsos dengan berbagai alasan dan mencari alternatif platform lain untuk hiburan atau sekadar mengisi waktu. Blog salah satunya. Lebih khusus lagi: blog ini.

Oh, tidak! Saya tidak ingin jadi seleb-blog. Saya hanya ingin punya banyak uang.

*

Saya cukup beruntung pernah hidup di masa surat-menyurat masih eksis, meskipun saat itu saya tidak suka (benci) menulis surat.

Saya ingat ketika ayah saya bertugas di Palembang dan kami menulis surat untuknya. Waktu itu saya masih kelas tiga atau empat SD. Mungkin kami mengiriminya surat sebulan sekali. Ibu saya yang menulis pertama, lalu saya menulis di bawahnya.

Saya tahu apa yang harus saya tulis di awal surat. Anda pasti juga sudah tahu. Itu sudah jadi standar. Yakni, menanyakan kabar.

Apa kabar Ayah?

Semoga dalam keadaan sehat selalu. Kami di sini dalam keadaan sehat.

Tetapi saya tidak tahu apa yang harus ditulis setelah itu. Ibu menyuruh saya menceritakan keseharian saya. Kalau hari itu lagi ujian di sekolah, maka yang saya tulis seputar ujian sekolah: ujian apa, sulit atau tidak soalnya, dsb. Saya lupa apa yang saya tulis saat itu. Yang saya ingat saya berinisiatif menulis tentang tante saya yang baru melahirkan anaknya.

Tante A baru melahirkan, nama anaknya “B”. Nama yang bagus, bukan?

Betapapun sulitnya menulis surat, rasanya senang bisa menulis surat untuk orang yang disuka.

Saya pernah mengalaminya di SMP. Dia yang duluan mengirimi saya surat. Sebetulnya itu bukan surat. Itu kartu lebaran. Selain mengucapkan selamat lebaran, saya lupa apa yang dia tulis. Yang saya tahu, tulisan tangannya bagus dan dia benar-benar tahu cara menulis.

Sebaliknya, tulisan balasan dari saya jelek. Sangat jelek. Bahkan dia sampai bilang kalau tulisan saya nggak bisa diradar nalar.

“Diradar nalar”. Lihat kan, bagaimana pintarnya dia memilih kalimat itu?

Jujur saja, sampai sekarang pun tulisan saya masih jelek. Anda pasti bisa merasakannya. Jadi, yang saya sebut saya cukup beruntung pernah hidup di zaman surat-menyurat itu lebih karena pernah mengalami ketimbang belajar menulisnya.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *