Jam tidur saya tidak menentu. Biasanya jam sebelas malam, atau lebih. Jarang sebelum itu. Tadi malam tidur jam dua belas. Lumayan nyenyak. Tidak kepotong karena kebangun buat kencing, atau gangguan nyamuk. Harusnya bisa bablas sampai subuh. Tapi tiba-tiba terdengar suara azan.
Saya lihat jam hape: jam tiga.
Anda tidak salah baca, jam tiga, pagi.
Itu terjadi setiap hari. Suara azan itu. Berasal dari masjid yang jaraknya cuma selemparan batu.
Tidak selalu jam tiga. Biasanya sekitar jam setengah empat. Tapi pernah juga sebelum jam tiga. Serius.
Tidak sampai di situ. “Kebisingan” dilanjut ajakan salat tahajud.
Maafkan saya menyebutnya kebisingan. Itu karena waktunya yang salah.
Begini ya, tahajud itu sunnah, meski sangat dianjurkan, tapi tidak semua orang berniat salat tahajud. Apalagi, tidak semua yang tinggal di situ muslim. Menyamaratakan orang untuk dibangunkan sama saja dengan memaksa.
Dan setahu saya, azan sebelum subuh dimaksudkan sebagai pengingat, bahwa waktu subuh sudah dekat. Ditujukan buat orang yang sedang salat tahajud atau sahur. Jadi, seharusnya azannya agak mepet ke azan subuh. Bukan jam tiga pagi!
Saya ingat waktu pertama kali ikut jemaah tabligh di Masjid Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Sebelum tidur, saya diberitahu bahwa, kalau mau salat tahajud, cukup dengan membalikkan peci. Nanti ada yang membangunkan. Itu cara yang benar-benar elegan. Tidak ada yang dipaksa. Tidak ada yang terganggu. Malam itu saya tidak membalik peci.





