Saya cukup beruntung pernah hidup di masa surat-menyurat masih eksis, meskipun saat itu saya tidak suka (benci) menulis surat.
Saya ingat ketika ayah saya bertugas di Palembang dan kami menulis surat untuknya. Waktu itu saya masih kelas tiga atau empat SD. Kami menulis di atas kertas folio. Ibu menulis pertama, kemudian saya menulis di bawahnya, lalu adik saya menulis di bawah tulisan saya.
Saya tahu apa yang harus saya tulis di awal surat. Saya yakin Anda pasti juga tahu. Itu sudah jadi standar. Diajarkan di sekolah. Surat pribadi biasanya dibuka dengan menanyakan kabar. Seperti ini:
Apa kabar Ayah?
Semoga dalam keadaan sehat selalu. Kami di sini dalam keadaan sehat.
Tetapi saya tidak tahu apa yang harus ditulis setelah itu. Ibu menyuruh saya menceritakan keseharian saya. Kalau hari itu lagi ujian di sekolah, maka saya menulis seputar ujian di sekolah: ujian apa, bisa jawab soalnya atau tidak, dsb. Saya lupa apa saja yang saya tulis saat itu. Yang saya ingat di satu surat saya pernah berinisiatif menulis tentang tante saya yang baru melahirkan.
Tante A baru melahirkan, nama anaknya “B”. Nama yang bagus, bukan?
Bagaimanapun, sesulit apa pun menulis surat, rasanya menyenangkan bisa menulis surat untuk orang yang disukai.
Saya pernah mengalaminya, di SMP. Dia yang duluan mengirimi saya surat. Sebetulnya itu bukan surat. Itu kartu lebaran. Selain mengucapkan selamat lebaran, saya lupa apa yang dia tulis. Yang saya tahu, tulisan tangannya bagus dan dia benar-benar tahu cara menulis.
Sebaliknya, tulisan balasan dari saya jelek. Sangat jelek. Bahkan dia bilang tulisan saya nggak bisa diradar nalar.
“Diradar nalar”. Lihat kan, bagaimana pintarnya dia memilih kata?
Sampai sekarang pun saya merasa tulisan saya jelek. Jadi, yang saya sebut “saya cukup beruntung pernah hidup di zaman surat-menyurat” itu lebih karena “pernah mengalami” ketimbang belajar menulisnya.





