Sore itu, waktu saya baru pulang dari sekolah, saya lihat di meja makan terhidang nasi uduk dan lauknya.
Hari itu memang hari ulang tahun saya, tapi saya nggak tahu kalau nasi uduk itu buat merayakannya. Saya pikir ada acara di rumah. Waktu saya tanya Ibu ada acara apa, Ibu bilang: “Pokoknya ada.”
Saya baru tahu nasi uduk itu untuk merayakan ulang tahun saya waktu kami duduk di tikar, lalu ayah saya berdoa untuk saya dan mengucapkan selamat ulang tahun.
Saya empat belas tahun saat itu.
Seingat saya, itu satu-satunya hari ulang tahun saya yang dirayakan; tanpa hadiah, tanpa tiup lilin, tanpa nyanyian selamat ulang tahun. Saya nggak tahu apakah hari ulang tahun saya juga dirayakan waktu saya masih bayi.
Tidak ada lagi perayaan hari ulang tahun setelah itu, kecuali menghadiahi diri sendiri.
Di hari ulang tahun saya yang kedelapan belas, saya menghadiahi diri saya koran Jakarta Post yang saya beli di depan terminal Bekasi.
Koran itu kemudian saya simpan. Mungkin beberapa tahun ke depan akan saya baca lagi untuk tahu apa saja kejadian di hari ulang tahun saya tahun itu. Seharusnya yang saya beli itu koran yang edisi sehari setelah ulang tahun saya, karena, sebagaimana Anda tahu, berita koran terlambat satu hari.
Di ulang tahun saya yang kedua puluh, saya menghadiahi diri saya sebuah buku agenda saku. Di bagian depan saya tulis “Happy Birthday 20th”.
Hadiah-hadiah itu sebetulnya sekadar jadi pengingat nantinya, ada peristiwa apa saja hari itu, apa saja yang saya lakukan, atau apa yang pernah saya harapkan di usia saya yang baru itu.
Dan hadiah untuk ulang tahun tahun ini, yah blog ini. Dan tulisan ini.
*
P.S. Tulisan ini seharusnya diterbitkan sepuluh hari lagi, tepat di hari ulang tahun saya. Saya memilih posting hari ini sebagai penutup dari tiga tulisan pembuka blog saya.




