Semangat saya buat ngeblog sedikit bertambah setelah baca buku yang saya beli awal Mei lalu: Teka-Teki Gambar Aneh.
Beberapa bulan terakhir saya memang lagi suka baca karya penulis Jepang, dan keturunan Jepang. Sebelumnya saya sudah baca Holy Mother karya Akiyoshi Rikako, dan sekarang lagi menyelesaikan Heaven, karya Meiko Kawakami. Ketiganya saya beli karena review-nya sering muncul di FYP akun X saya. Kebanyakan bilang bagus.
Di antara itu, ada satu penulis Jepang lain, lebih tepatnya keturunan Jepang, karena dia warga negara AS, yakni Cynthia Kadohata.
Saya sudah baca tiga bukunya: Kira-Kira, The Thing Called Luck, dan Weedflower. Ketiganya saya beli bukan atas rekomendasi siapa-siapa. Buku-buku itu memang sudah bagus dari sananya. Maksud saya, buku-buku itu pernah menang atau masuk nominasi penghargaan, jadinya saya nggak perlu berpikir dua kali untuk membelinya. Misalnya novel Kira-Kira yang memenangkan Newberry Medal dan diajarkan di sekolah-sekolah di AS.
Teka-Teki Gambar Aneh ditulis Uketsu. Uketsu itu nama samaran. Nggak ada yang tahu identitas aslinya. Selain penulis, ia juga YouTuber.
Teka-Teki Gambar Aneh adalah buku keduanya. Terbit di Jepang tahun 2022, di Indonesia awal 2026. Buku pertamanya berjudul: Teka-Teki Rumah Aneh. Tadinya saya mau beli yang itu, tapi banyak yang bilang Teka-Teki Gambar Aneh lebih bagus. Saya beli buku itu di Tokopedia, waktu diskon promo 5.5

Kisahnya bermula dari dua mahasiswa, Kurihara dan Sasaki, yang sedang menyelidiki sebuah blog. Nama blognya: Catatan Harian Ren. Ren itu nama samaran.
Selain berisi jurnal harian, Ren juga posting gambar-gambar aneh yang dibuat Yuki–istrinya yang sedang hamil. Berikut gambar-gambar itu:
1. Gambar bayi
4. Gambar anak-anak (bisa laki-laki atau perempuan)
3. Gambar perempuan dewasa
5. Gambar laki-laki dewasa
2. Gambar nenek-nenek.
Tiap-tiap gambar diberi nomor, urutannya seperti di atas. Setelah meneliti gambar-gambar itu, kedua mahasiswa itu menyimpulkan, bahwa Yuki sedang meramal waktu kematiannya sendiri dan memberitahu orang lain lewat gambar-gambar itu!
Sekarang, mari kita fokus ke blognya. Anda mungkin bertanya-tanya, atau tidak, kenapa Ren pakai blog? Kenapa bukan Facebook?
Begini. Latar belakang cerita itu diawali tahun 2014 waktu blog masih digemari, meskipun sedang mengalami tren penurunan. Sementara Ren sendiri mulai ngeblog di tahun 2008 ketika blog sedang jaya-jayanya, dan berhenti menulis tahun 2012.
Siapa tahu dengan menampilkan blog ke dalam cerita, begitu saya mengira si penulis buku berpikir, ada pembaca yang kangen ngeblog atau penasaran dengan blog. Anda mungkin salah satunya?




