Month: May 2026

  • Website Error

    Saya merasa harus menulis ini. Penting!

    Sudah menjadi rutinitas pagi saya mencatat jumlah kunjungan ke sebuah website perusahaan yang saya kelola. Jumlah kunjungan itu nantinya akan dibandingkan dengan telepon atau pesan WhatsApp yang diterima sales support perusahaan.

    Tapi pagi ini website itu error. Tidak bisa dibuka. Di situ tertulis: There has been a critical error on this website.

    Mungkin ada clash atau konflik di plugin, pikir saya. Sambil deaktif plugin, saya hubungi pihak hosting. Pihak hosting menunjukkan sreenshot tampilan website.

    Tentu saja. Website sudah bisa online lagi setelah plugin non aktif. Meski begitu saya masih merasa tidak puas. Error itu bisa saja terjadi lagi.

    Saya tanya ChatGPT. ChatGPT bilang kemungkinan masalahnya ada di sini:

    1. Plugin bentrok atau rusak
    2. Theme error
    3. Update WordPress gagal
    4. Versi PHP tidak cocok
    5. Memory limit habis
    6. File core WordPress corrupt

    Saya curiga nomor dua yang jadi sumber masalahnya. Kenapa?

    Di dasbor wordpress pesan “an automated WordPress update has failed to complete” muncul terus. ChatGPT menjelaskan bawa auto update yang gagal membuat sistem menganggap masih terjadi maintenance. Padahal tidak ada. Pesan itu berasal dari file .maintenance yang di dalam folder public_html (/public_html/.maintenance).

    Saya kemudian menghapus file itu lewat cPanel dan pesan “an automated WordPress update has failed to complete” itu pun hilang. Saya aktifkan lagi semua plugin dan tampilan website kembali normal.

    Mungkin buat sebagian Anda ini masalah sepele. Tapi bagi saya, ini bisa jadi bahan tulisan di blog.

  • Lalu ke Sini

    Semangat saya untuk ngeblog sedikit bertambah setelah baca buku yang saya saya beli awal Mei lalu: Teka-Teki Gambar Aneh.

    Beberapa bulan terakhir saya memang lagi suka baca karya penulis Jepang dan keturunan Jepang. Sebelum itu ada Holy Mother, karya Akiyoshi Rikako, dan sekarang sedang menyelesaikan Heaven, karya Meiko Kawakami. Ketiganya saya beli karena sering melintas di FYP akun X saya. Semuanya bagus. Saya juga merekomendasikan ketiganya buat Anda baca.

    Di antara itu, ada satu penulis Jepang lain, lebih tepatnya keturunan Jepang karena dia warga negara AS, yakni Cynthia Kadohata.

    Saya sudah membaca tiga bukunya: Kira-Kira, The Thing Called Luck, dan Weedflower. Buku itu saya beli bukan atas rekomendasi siapa-siapa. Hanya, memang buku-buku itu bagus dari sananya. Maksud saya buku-buku itu pernah memenangkan atau masuk nominasi penghargaan. Seperti Kira-Kira yang memenangkan Newberry Medal dan diajarkan di sekolah-sekolah di AS.

    Teka-Teki Gambar Aneh ditulis Uketsu. Uketsu itu nama samaran. Tidak ada yang tahu identitasnya. Wajahnya ditutup topeng putih dan ia memakai pakaian ketat hitam lengan panjang. Selain penulis, ia juga YouTuber.

    Teka-Teki Gambar Aneh adalah buku keduanya. Terbit di Jepang tahun 2022, di Indonesia awal 2026. Buku pertamanya berjudul: Teka-Teki Rumah Aneh. Tadinya saya mau beli yang itu, tapi banyak yang bilang Teka-Teki Gambar Aneh lebih bagus. Saya beli buku itu di toko online, waktu diskon promo 5.5

    teka-teki-gambar-aneh-uketsu

    Kisahnya bermula dari dua mahasiswa, Kurihara dan Sasaki, yang sedang menyelidiki sebuah blog. Nama blognya: Catatan Harian Ren. Ren itu nama samaran.

    Selain catatan harian, blog itu juga disertai gambar-gambar aneh yang dibuat Yuki, istri Ren yang sedang hamil. Berikut gambar-gambar itu:

    1. Gambar bayi

    4. Gambar anak-anak (bisa laki-laki atau perempuan)

    3. Gambar perempuan dewasa

    5. Gambar laki-laki dewasa

    2. Gambar nenek-nenek.

    Tiap-tiap gambar diberi nomor, urutannya seperti di atas. Setelah meneliti gambar-gambar itu, kedua mahasiswa itu menyimpulkan, bahwa Yuki sedang meramal waktu kematiannya sendiri dan memberitahu orang lain lewat gambar-gambar itu!

    Tetapi tulisan ini bukan untuk mengulas buku itu. Melainkan tentang blognya. Kenapa penulis buku memakai blog? Kenapa bukan Facebook?

    Begini. Latar belakang cerita itu diawali tahun 2014 ketika blog masih digemari–meskipun sedang mengalami tren penurunan. Sementara Ren sendiri mulai menulis di blog tahun 2008 ketika blog sedang berjaya, dan berhenti menulis tahun 2012.

    Siapa tahu, dengan menampilkan blog ke dalam cerita, ada pembaca yang kangen atau Gen-Z yang penasaran dengan blog. Anda mungkin salah satunya?

  • Kemudian Ke Sini.

    Untuk meyakinkan saya supaya konsisten ngeblog, saya mencoba berpikir positif: blog akan kembali berjaya.

    Harapan itu tidak berlebihan. Mungkin ada saatnya orang-orang akan jenuh dengan medsos dengan berbagai alasan dan mencari alternatif platform lain untuk hiburan atau sekadar mengisi waktu. Blog salah satunya. Lebih khusus lagi: blog ini.

    Oh, tidak! Saya tidak ingin jadi seleb-blog. Saya hanya ingin punya banyak uang.

    *

    Saya cukup beruntung pernah hidup di masa surat-menyurat masih eksis, meskipun saat itu saya tidak suka (benci) menulis surat.

    Saya ingat ketika ayah saya bertugas di Palembang dan kami menulis surat untuknya. Waktu itu saya masih kelas tiga atau empat SD. Mungkin kami mengiriminya surat sebulan sekali. Ibu saya yang menulis pertama, lalu saya menulis di bawahnya.

    Saya tahu apa yang harus saya tulis di awal surat. Anda pasti juga sudah tahu. Itu sudah jadi standar. Yakni, menanyakan kabar.

    Apa kabar Ayah?

    Semoga dalam keadaan sehat selalu. Kami di sini dalam keadaan sehat.

    Tetapi saya tidak tahu apa yang harus ditulis setelah itu. Ibu menyuruh saya menceritakan keseharian saya. Kalau hari itu lagi ujian di sekolah, maka yang saya tulis seputar ujian sekolah: ujian apa, sulit atau tidak soalnya, dsb. Saya lupa apa yang saya tulis saat itu. Yang saya ingat saya berinisiatif menulis tentang tante saya yang baru melahirkan anaknya.

    Tante A baru melahirkan, nama anaknya “B”. Nama yang bagus, bukan?

    Betapapun sulitnya menulis surat, rasanya senang bisa menulis surat untuk orang yang disuka.

    Saya pernah mengalaminya di SMP. Dia yang duluan mengirimi saya surat. Sebetulnya itu bukan surat. Itu kartu lebaran. Selain mengucapkan selamat lebaran, saya lupa apa yang dia tulis. Yang saya tahu, tulisan tangannya bagus dan dia benar-benar tahu cara menulis.

    Sebaliknya, tulisan balasan dari saya jelek. Sangat jelek. Bahkan dia sampai bilang kalau tulisan saya nggak bisa diradar nalar.

    “Diradar nalar”. Lihat kan, bagaimana pintarnya dia memilih kalimat itu?

    Jujur saja, sampai sekarang pun tulisan saya masih jelek. Anda pasti bisa merasakannya. Jadi, yang saya sebut saya cukup beruntung pernah hidup di zaman surat-menyurat itu lebih karena pernah mengalami ketimbang belajar menulisnya.

  • Mulai Dari Sini

    Di hosting itu ada beberapa domain aktif, dan satu-satunya domain yang tidak aktif malah domain utamanya. Karena sudah tidak digunakan dan tidak diperpanjang, saya putuskan untuk mengganti domain utama.

    Domain yang lain memang bisa jadi domain utama, tetapi harus dikosongkan dulu datanya. Harus di-backup dulu. Huh, ribet banget. Kenapa tidak beli domain baru saja? pikir saya. Beli saja yang paling murah.

    Dan inilah domain itu, yang diambil dari nama saya.

    Kemudian saya pikir lagi, kenapa domainnya tidak dipakai saja buat ngeblog?

    Blog, masih relevankah di jaman sekarang?

    Sebagian Gen-Z mungkin tidak tahu apa itu blog. Blog sudah tidak populer sejak satu dekade terakhir.

    Sebetulnya saya juga mempertanyakan keputusan saya untuk ngeblog, apalagi saya pernah ngeblog dan berhenti begitu saja.

    Bukankah itu hanya buang-buang waktu?

    Kenapa tidak nulis di medsos saja?

    Bukankah medsos juga blog—mikro blog?

    Apakah nantinya saya akan konsisten menulis di blog? Atau, malah berhenti lagi?

    Sungguh, terus-terusan memikirkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu tidak akan membuat saya mulai menulis.