Saya rasa saya perlu menjelaskan alasan saya tidak menulis blog selama satu bulan itu—yang tentunya bukan untuk membela diri.
Saya menyadari ada hal yang lebih penting dari jumlah postingan, yakni kualitas tulisan. Jadi, selama masa absen itu saya memeriksa semua tulisan yang sudah diposting dan menemukan betapa berantakan semua tulisan itu. Setelah mengevaluasi, menimbang, dan menetapkan, saya menghapus beberapa tulisan, dan memperbaiki sisanya.
Saya juga berpikir tentang mengubah gaya menulis. Apakah menggunakan bahasa santai dan tidak terlalu baku, atau tetap menggunakan bahasa baku meskipun terasa kaku. Saya pilih yang kedua. Saya ingin tulisan-tulisan saya tetap mudah dibaca, tetapi juga terasa rapi.
Soal topik, untuk saat ini saya masih akan menulis tentang keseharian saya yang membosankan, meskipun tidak menutup kemungkinan saya akan menulis topik lain. Seperti politik?
Tapi bukan hal itu yang paling menyita waktu.
Dua cerpen saya yang sudah lama selesai, yang saya pikir sudah sempurna, ternyata juga berantakan. Di sini saya kecewa pada diri sendiri. Mengapa saya tidak menyadarinya dari awal?
Mungkin saya terlalu cepat puas. Mungkin saya terlalu percaya diri. Mungkin saya kurang teliti. Mungkin saya kurang membaca.
Terlalu banyak kemungkinan membuat saya semakin sadar bahwa saya harus banyak belajar.
Karena itu saya berusaha memperbaikinya. Ada bagian yang dipangkas, ada yang ditambah. Ada yang diubah, ada yang diganti.
Tapi mengedit bukan pekerjaan mudah. Ada saja yang perlu diperbaiki. Untuk satu cerpen, bisa diedit puluhan sampai ratusan kali. Saya tahu itu tidak akan sempurna, tapi setidaknya jadi lebih baik.
Saya tidak tahu apakah penulis lain juga seperti ini. Yang jelas, selama belum diterbitkan menjadi buku, saya masih bisa mengeditnya suka-suka saya.

