Karena saya sempat menyinggung jemaah tabligh, saya jadi ingat waktu pertama kali ikut kelompok itu (lihat Sunnah, Bukan). Kalau tidak salah waktu itu kelas dua STM.
Kami tidak tahu kalau pesantren kilat yang diumumkan guru Bahasa Indonesia itu ternyata ikut dengan Jemaah Tabligh. Pantas aja, waktu kami tanya di mana dan kapan, beliau hanya menjawab, “Kalian lihat saja nanti.”
Ada tiga kelas yang ikut, atau sekitar 80-90 murid. Gurunya tidak banyak, tidak sampai sepuluh orang. Tempatnya: Masjid Jami Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
Masjidnya terletak di lingkungan padat di pinggir jalan. Bangunannya tua. Usianya saat ini 240 tahun. Halamannya sempit. Ruang salatnya gelap. Tidak ada urinoir. Tempat kencingnya berupa bilik jongkok. Kali di seberangnya berwarna hitam, baunya tercium sampai ke masjid. Jemaahnya sangat banyak. Ada juga orang asing. Salah seorang bule Australia memberikan ceramah usai salat magrib.
Malamnya, kami tidur di ruang salat dengan alas sajadah atau apa saja. Yang ingin salat tahajud, seperti pernah saya bilang, tinggal membalikkan kopiah atau peci. Nanti dibangunkan.
Besoknya, kami dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil. Setiap kelompok terdiri dari dua sampai empat murid, dan didampingi beberapa jemaah tabligh senior. Setelah itu kami dikirim ke masjid-masjid berbeda di Jakarta. Saya dan dua atau tiga teman saya ditempatkan di masjid Imam Bonjol di Pondok Labu, Cilandak.
Itu masjid bagus. Letaknya di tengah komplek perumahan TNI AL. Ada dua lantai, halaman dan terasnya luas. Ada perpustakaan juga. Pengurus masjid dan jemaah yang menyambut kami juga jemaah tabligh.
Selama seminggu kami salat berjamaah, mengikuti taklim, membaca kitab fadilah amal di depan jemaah salat, makan bersama dalam satu nampan, dan melakukan “jaulah”–berdakwah dari rumah ke rumah. Kami sendiri kemudian disebut “karkun”.
Saya lupa siapa saja teman yang satu kelompok dengan saya. Yang saya ingat, salah satu teman saya ditegur setelah ketahuan merokok.
Di masa itu murid-murid STM identik dengan tawuran, dan bisa dipastikan hampir semua muridnya ikut tawuran. Saya pengecualian. Kenakalan saya hanya sebatas datang terlambat, berpakaian tidak rapih, dan sesekali bolos. Saya juga tidak merokok.
Pesantren kilat itu benar-benar mengubah kami.
Setelah dua pekan berpisah, kami bertemu kembali di masjid Masjid Kebon Jeruk. Pada saat itu kami sudah terbiasa mengucapkan Masya Allah, Subhanallah, dan kata-kata semacam itu. Menjelang pulang, kecuali mungkin saya, semua menangis saat berdoa bersama, bahkan teman saya yang paling nakal sekalipun.
Kebiasaan baik selama pesantren kilat itu terbawa sampai di sekolah. Kami mengucap salam setiap kali bertemu, banyak mengucap Masya Allah, dan mengadakan taklim setelah salat wajib di masjid. Masya Allah.
Tapi hanya sebentar.
Kira-kira seminggu kemudian, kami kembali tawuran.

