Hati Nurani

Suatu hari, ketika saya bekerja di bagian underwriting di sebuah perusahaan asuransi nasional, seorang klien menyelipkan uang seratus ribu rupiah kepada saya setelah polis asuransi marine cargo-nya terbit.

Saya menerimanya, tapi hati saya bilang: “Ini ada yang salah“. Namun di sisi lain, saya juga tidak enak untuk menolaknya. Melihat saya yang sedang kebingungan, rekan saya bilang: “Udah, ambil aja. Gue juga sering dikasih.”

Karena kepikiran terus, beberapa hari kemudian, di pengajian Sabtu sore, saya tanyakan hal itu kepada ustaz. Ustaz tidak menjawab haram atau halal, boleh diterima atau tidak. Beliau menjawab dengan jawaban di luar dugaan saya:

“Coba Anda tanya hati nurani Anda.”

Ok, saya paham dan bisa menerima jawabannya.

Tapi tidak dengan seorang jemaah lain, yang rupanya terusik dengan jawaban tersebut. Ia mengangkat tangan, berkata,

“Tapi kan ustaz ….”

Saya lupa lanjutan ucapannya. Yang saya tahu, ia tidak terima jawaban tersebut, meskipun sang ustaz tidak mengatakan bahwa praktik itu haram atau bentuk suap.

Untuk diketahui, yang bertanya itu bekerja di bagian purchasing.

Ya, hati nurani memang tidak bisa dibohongi.