Adab

Suatu hari, sehabis salat magrib di masjid, ketika saya berbelok masuk ke gang rumah, saya melihat tetangga saya, yang usianya sudah lanjut dan juga baru pulang dari masjid, jalan di depan saya. Biasanya saya mendahuluinya sambil berkata, “Duluan, Pak.” Hanya, sore itu saya malas berbasa-basi. Untungnya rumah saya lebih dekat, jadi saya tidak perlu berlama-lama berjalan di belakangnya.

Tapi tetangga saya berjalan tidak seperti biasanya. Ia berjalan lambat, sangat lambat. Atau, saya pikir, jalannya memang sengaja dilambat-lambatkan. Sesekali ia juga berhenti, atau sengaja berhenti, untuk memungut sesuatu di jalan lalu melemparkannya ke pinggir atau membuangnya ke tempat sampah.

Setelah beberapa saat, saya tahu mengapa ia melambatkan jalannya. Agak jauh di depannya, ada tetangga lain yang usianya lebih tua darinya, yang juga berjalan lambat.

Saya berhenti berjalan dan berpikir: kok bisa seseorang yang jauh lebih tua dari saya punya pikiran yang sama dengan saya?