
Kalau saya ditanya tentang menulis, saya akan jawab: sesuatu yang malas saya lakukan, tapi harus dilakukan.
Seperti olahraga.
Saya tahu manfaat berolahraga, bukan hanya buat hari ini, tetapi juga buat empat puluh tahun ke depan. Tapi saya malas melakukannya. Kalaupun mau, saya tidak terlalu senang.
Berita baiknya, selama sebulan terakhir saya sudah rutin berolahraga. Tidak setiap hari. Bukan olahraga berat. Hanya lari pagi, tidak jauh, hanya sekitar satu kilometer.
Kalau dibandingkan waktu usia saya belasan atau dua puluhan tahun, jarak itu bukan apa-apa. Dulu saya terbiasa berlari lima kilometer setiap pagi. Kadang sorenya juga. Ditambah push-up dan sit-up.
Saya harus berterima kasih kepada diri saya yang lebih muda. Karena runititas itu badan saya masih fit sampai sekarang.
Yang tidak berubah hanya satu: saya masih malas berolahraga.
Menulis pun begitu. Saya terpaksa menulis lebih karena akan menyesal kalau tidak menyelesaikan apa yang sudah saya mulai.
Blog ini, misalnya. Saya bisa saja berhenti menulis hari ini. Toh tidak ada ruginya. Tapi saya akan menyesal. Entah apa yang disesali. Mungkin kehilangan kesempatan buat memonetisasi blog, arsip hidup, ide-ide, atau yang lain.
Kalau dipikir-pikir lagi, daftar sesuatu yang malas saya lakukan tetapi harus dilakukan ternyata cukup panjang. Misalnya, baca buku, mengerjakan pekerjaan rumah, dan bahkan beribadah.
Namun saya boleh bangga pada diri sendiri, sebagian besar daftar itu sudah rutin saya lakukan—meskipun, terus terang saja, sering kali dengan terpaksa.
Jadi, bagaimana dengan Anda? Punya daftar sesuatu yang malas saya lakukan tetapi harus dilakukan juga?
