Dua Orang PhD

Pagi ini saya menemukan sebuah video lama TED di YouTube: How to Make Learning as Addictive as Social Media. Sangat menginspirasi. Narasumbernya Luis von Ahn, pendiri Duolingo. Videonya hanya berdurasi 12 menit 54 detik. Anda mungkin sudah pernah menontonnya.

Luis Von Ahn lahir dan besar di Guatemela, negara kecil di bawah peta Meksiko yang katanya makanan Meksikonya lebih enak dari Meksiko. Ayahnya keturunan Jerman. Ibunya asli Guatemala. Keduanya dokter. Konon, ibu Luis orang Guatemala pertama yang lulus kedokteran. Luis lahir saat ibunya berusia 42 tahun. Orang tua Luis bercerai saat usianya satu tahun. Kemudian Luis dibesarkan ibunya. Ibunya yang membiayai semua biaya pendidikannya.

Luis kuliah di AS. Jurusan: Ilmu Komputer. Dapat gelar Phd, lalu menjadi profesor di Universitas Carnegie Mellon. Luis salah satu pencipta reCAPTCHA. Anda sudah tahu itu untuk apa.

Sekitar tiga belas tahun lalu, ia punya mimpi: pendidikan gratis untuk semua orang. Untuk mewujudkannya, ia tidak sendiri. Ia mengajak Severin Hacker—mahasiswa PhD-nya saat itu.

Pertanyaan pertama yang muncul, apa yang akan diajarkan?

Mengajarkan banyak mata pelajaran pastinya akan sulit, tidak fokus, dan biayanya tinggi. Setelah melewati berbagai pertimbangan, mereka sepakat memilih satu pelajaran: bahasa asing.

Alasannya sederhana.

Begini, ada dua miliar orang di dunia yang belajar bahasa asing, baik di sekolah maupun luar sekolah, di mana 80%-nya belajar bahasa Inggris. Belajar bahasa Inggris bisa langsung menghasilkan lebih banyak uang. Jika Anda bekerja sebagai pelayan rumah makan dan Anda jago bahasa Inggris, maka Anda punya kesempatan bekerja di hotel bintang lima dan menghasilkan lebih banyak uang. Tapi kalau Anda hanya tahu tentang Matematika, makan jalan dapat uang banyak lebih panjang. Anda mungkin bisa mengajar Matematika di sekolah, tapi gajinya tidak sebesar housekeeper di hotel.

Mereka membuat aplikasi: Duolingo.

Dua orang.

Bukan kementerian.

Bukan lembaga besar.

Bukan organisasi dengan ribuan pegawai.

Dua orang.

Dua orang PhD berhasil membuat jutaan orang di seluruh dunia belajar bahasa asing secara gratis.

Sementara di negeri ini, pendidikan telah menjadi urusan yang melibatkan begitu banyak orang, begitu banyak program, begitu banyak kebijakan, begitu banyak anggaran.

Kurikulum sudah berganti nama menjadi Kurikulum Merdeka. Ada digitalisasi. Ada Chromebook. Ada smartboard. Ada MBG. Ada sekolah rakyat. Dan proyek lain yang nilainya tidak kecil.

Hasilnya?

Anda sudah tahu. Lebih tahu.

Jadi, kalau Anda bertanya mengapa pendidikan di Indonesia sulit maju, jawabannya ada di video di bawah ini: